Awas, Ini Kesalahan Umum dalam Penyusunan Laporan Keberlanjutan

Kesalahan penyusunan laporan keberlanjutan perlu dihindari. Laporan keberlanjutan (sustainability report) bukan hanya laporan dari data yang dikumpulkan, melainkan metode untuk menginternalisasi dan meningkatkan komitmen perusahaan atau organisasi terhadap pembangunan berkelanjutan. 

Sayangnya, tidak sedikit perusahaan atau organisasi yang belum memahami tujuan penyusunannya. Hal ini pun berdampak pada saat menyusun laporan berkelanjutan. Sejumlah kesalahan pun masih ditemui dalam penyusunan laporan berkelanjutan, seperti di bawah ini.

Kesalahan Penyusunan Laporan Keberlanjutan

Fokus Tunggal

Laporan berkelanjutan bukan hanya tentang lingkungan. Laporan berkelanjutan harus menunjukkan dampak pada triple bottom line: manusia, planet, dan laba. Tapi, masih ditemui laporan berkelanjutan yang hanya memuat satu dari ketiga bottom line tersebut. Alhasil, laporan berkelanjutan itu hanya memiliki fokus tunggal.

Terlalu Panjang

Banyak data berharga yang ingin Anda masukkan dalam laporan berkelanjutan. Tapi, pembaca mungkin tidak memiliki waktu banyak untuk membacanya satu per satu. Jadi, padatkan atau sortir laporan Anda. Anda, misalnya, bisa mengutamakan data yang paling aktual. Kemudian, Anda dapat menyimpan versi yang lebih panjang untuk keperluan internal. Usahakan menyusun kalimat secara aktif dan pendek-pendek. Hal ini juga berguna agar informasi yang tersampaikan lebih cepat dimengerti oleh pembaca. Tak kalah penting, pastikan informasi yang disajikan relevan dengan target audiens Anda.

Kesalahan Penyusunan Laporan Keberlanjutan

Membosankan Secara Visual

Sekumpulan data memang terlihat memusingkan bagi sebagian orang. Foto dan tampilan desain bisa membuat laporan berkelanjutan lebih ‘berwarna’. Namun, tampilan visual yang sudah berisi data, foto, dan desain juga bisa membosankan. Foto program yang hanya menampilkan top management adalah salah satu contohnya. Cobalah untuk mengombinasikannya dengan foto-foto penerima manfaat langsung dari program tersebut. Hal ini bisa menguatkan kesan human interest dalam laporan berkelanjutan.

Tidak Menggunakan Standar Pengukuran yang Diakui

Laporan keberlanjutan harus menunjukkan bagaimana kinerja perusahaan dalam etika, keragaman, lingkungan, kesehatan, keselamatan, kondisi sosial, tenaga kerja dan sebagainya yang tidak dapat diukur secara kuantitatif, seperti data keuangan. Namun, konsep laporan berkelanjutan sudah ada sejak beberapa tahun lalu. Sejumlah pedoman laporan berkelanjutan juga bisa dijadikan acuan. Namun, alangkah baiknya pedoman yang dijadikan acuan menggunakan standar pengukuran yang diakui. 

 

Contact Us

Instagram dmccomm_id

Website dmc-indonesia.com