Hindari Ini Ketika Memilih Konsultan Media

Ada banyak pertimbangan bila sebuah perusahaan atau organisasi ketika memilih konsultan media. Seleksi konsultan media mungkin bisa saja mencakup presentasi. Melalui presentasi, perusahaan bisa mengetahui lebih dalam mengenai konsultan media. Nah, sudah lazim kelebihan akan ditonjolkan saat ‘jualan’. Namun, ada baiknya bila perusahaan menghindari bekerja sama dengan konsultan media yang: 

Tidak Memiliki Spesialisasi

Generalisasi vs spesialisasi akan selalu menimbulkan pro-kontra. Boleh-boleh saja sebuah konsultan media memiliki banyak bidang usaha. Sebagian konsultan media akan berusaha untuk bekerja dengan semua jenis klien di berbagai bidang usaha. Tapi, spesialisasi menjanjikan fokus yang lebih. Perusahaan juga akan menemukan konsultan media yang lebih tepat dengan kebutuhan. 

Ketika Memilih Konsultan Media Hindari yang Memberi Ekspektasi Berlebihan

Nilai tambah (added value) menjadi sesuatu yang positif. Pastikan bahwa konsultan media memiliki nilai tambah spesifik. Namun, perusahaan juga harus bisa mengukur nilai tambah tersebut realistis atau tidak. Ekspektasi berlebihan bisa membuat klien terbuai. Bila terealisasi, klien akan merasa sangat puas. Bila tidak, maka akan kecewa. Jadi, jangan berasumsi bahwa konsultan media dan kliennya memiliki ekspektasi yang sama. Harapan yang berdasarkan asumsi akan membuat hubungan memburuk bila hal-hal tak sesuai apa yang dibayangkan. Sebuah konsultan media, contohnya, menyusun penulisan siaran pers kliennya. Namun, lingkup pekerjaan tersebut tidak termasuk menyebarluaskannya ke media. Hal-hal seperti ini harus dipahami kedua belah pihak sebelum kontrak kerja sama ditandatangani. 

 

Ketika Memilih Konsultan Media Hindari yang Tidak Menjaga ‘Jarak’ dengan Klien

Kedekatan antara perusahaan dan konsultan adalah penting. Tapi, terlalu dekat juga tidak baik. Mungkin, konsultan berusaha dekat dengan kliennya untuk mencairkan hubungan mereka. Tapi, salah satu kesalahan terbesar yang dilakukan banyak konsultan adalah lupa bahwa mereka terlibat dalam hubungan bisnis. Karyawan konsultan media bukanlah karyawan kliennya. Begitu pula sebaliknya. Konsultan media bekerja dengan klien, bukan untuk klien. Jadi, perhatikan batas perbedaan tersebut: jangan terlampau dekat, jangan pula terlalu renggang.

 

Tidak Melakukan Pemasaran Secara Konsisten

Pada awalnya, kebanyakan konsultan mencurahkan banyak waktu dan energi untuk menemukan klien awal mereka. Namun, begitu mereka memiliki basis klien yang stabil, banyak orang berhenti melakukan pemasaran. Padahal, hal itu membantu mereka menemukan klien sejak awal. Website, media sosial, atau platform lain milik konsultan media yang ter-update secara berkala bisa menjadi patokan. Pemasaran aktif menandakan bahwa konsultan media menjalankan upaya konsisten untuk mengembangkan bisnisnya.  

 

Contact Us

Instagram @dmccomm_id

Website dmc-indonesia.com