Mengenal Perbedaan Antara SEO dan SEM

Apa itu Search Engine Marketing (SEM)?

Search Engine Marketing (SEM) adalah praktik mengiklankan website di hasil pencarian. Hasil pencarian terdiri dari dua bagian, yaitu organik dan iklan. Iklan yang muncul di hasil pencarian inilah yang disebut sebagai Search Engine Marketing (SEM).

Hampir semua mesin pencari mempunyai fitur SEM, dari Google sampai Bing. Namun, yang paling sering digunakan adalah Google. Sebab Google menguasai pangsa pasar mesin pencari di seluruh dunia, termasuk Indonesia.

Seperti yang sudah disebutkan di awal, SEM adalah praktik mengiklankan website. Jadi untuk menggunakannya, kamu perlu mengeluarkan biaya. Kebanyakan mesin pencari menggunakan metode Pay Per Click (PPC).

Perbedaan Search Engine Optimization (SEO) dan Search Engine Marketing (SEM)

Terdengar mirip, tapi SEM dan SEO adalah dua hal berbeda. Meskipun sama-sama muncul di hasil pencarian, keduanya memiliki cara kerja yang berbeda. Di bawah ini kami akan menjelaskan tiga perbedaan utama SEO dan SEM:

1. Tampilan di Hasil Pencarian

      Perbedaan pertama adalah tampilan. Tampilan SEM selalu muncul dengan tanda Iklan. Tanda ini untuk membedakannya dengan hasil pencarian. Mungkin Anda pernah melihat iklan Search Engine Marketing (SEM) seperti ini.

Search Engine Marketing (SEM)

Di sisi lain, hasil pencarian SEO tidak muncul dengan tanda apa pun. Hasil pencarian organik ini murni diurutkan oleh Google berdasarkan kesesuaian search intent, kelengkapan konten, backlink, dan faktor-faktor lainnya.

2. Biaya yang Dikeluarkan

Untuk menggunakan SEO, Anda tidak perlu membayar ke mesin pencari. Mesin pencari akan menilai berbagai faktor di website Anda untuk menentukan peringkatnya di kata kunci tertentu. Jika memenuhi faktor-faktor yang ditetapkan Google, besar kemungkinan konten kamu bisa muncul di halaman pertama hasil pencarian.

Berbeda dengan SEO, untuk menggunakan SEM, Anda perlu mengeluarkan biaya. Anda bisa mengatur berapa budget yang akan dihabiskan untuk iklan, bisa ratusan ribu rupiah hingga puluhan, atau bahkan ratusan juta rupiah tergantung kebutuhan.

3. Tools yang Digunakan

Search Engine Marketing (SEM) biasanya membutuhkan tools khusus. Misalnya, untuk mengiklankan website di hasil pencarian Google, kamu harus menggunakan Google Ads dan Google Keyword Planner.

Di sisi lain, tidak ada tools khusus seperti Google Ads untuk SEO. Walaupun begitu, untuk memenangkan persaingan di SEO, Anda membutuhkan berbagai tools. Dari tools riset keyword, analisis backlink, dan semacamnya.

 

Contact Us

Instagram : @dmccomm_id

Website     :   dmc-indonesia.com

Yuk, Tengok Key Elements Social Media Management

elemen social media

Supaya bisnis Anda sukses, Anda perlu memahami elemen social media management sebelum mempromosikan produk atau jasa yang Anda miliki. 

Jumlah Akun

Elemen social media management yang pertama adalah jumlah akun. Kini, pilihan platform media sosial ada banyak, antara lain Facebook, Instagram, Twitter, LinkedIn, dan Youtube. Biasanya, satu brand menggunakan lebih dari satu platform. Masalahnya, mengelola lebih dari satu akun media sosial cukup menguras waktu dan tenaga, baik itu untuk pembuatan konten atau merespons tanggapan klien. Tapi, Anda tidak perlu khawatir karena sekarang ada beberapa perangkat yang dapat membantu pekerjaan tersebut.

Menentukan Strategi Branding pada Elemen Social Media Management

Menentukan strategi branding merupakan salah satu elemen di dalam social media management yang tidak kalah penting. Media sosial telah berkembang menjadi sarana bisnis dalam meningkatkan kesadaran masyarakat akan keberadaanya, mengenalkan merek atau layanan yang ditawarkannya, menarik pengunjung atau pelanggan baru, dan membangun komunikasi dengan pelanggan. Dalam menjalankan usaha-usaha tersebut melalui media sosial, Anda butuh strategi yang jelas dan pasti untuk memastikan usaha Anda benar-benar membuahkan hasil.

Elemen Social Media Management : Susun Jadwal Posting

Buatlah jadwal posting. Anda bisa membuatnya per hari, minggu, atau bulan. Yang jelas, Anda sebaiknya konsisten membuat posting-an. Misalnya saat weekday, tiga kali seminggu dan sebagainya. Bila Anda merasa akan kewalahan membuat posting-an di beberapa platform media sosial, kini ada beberapa tools yang dapat Anda coba. Salah satunya adalah Buzzsumo. Perangkat yang satu ini dapat dihubungkan dengan Facebook, LinkedIn, Twitter, dan Pinterest. Cara menggunakannya juga sederhana, Anda hanya perlu memasukkan URL post media sosial Anda. Buffer adalah contoh tools lainnya. Perangkat yang satu ini dapat mempermudah penjadwalan publikasi konten media sosial Anda. Analisis akurat tentang usaha dan target user juga menjadi kekuatan utama perangkat yang terhubung dengan Facebook, Instagram, Twitter, LinkedIn, dan Pinterest ini.

Penting Menganalisis Engagement Elemen Social Media Management

Setelah posting-an telah terpublikasi, bukan berarti tugas Anda selesai. Anda juga sebaiknya perlu menganalisis keterlibatan sosial. Hal ini guna memastikan bahwa konten yang Anda sajikan benar-benar efektif dan relevan dengan pengikut akun media sosial Anda. Parameter penting dan mungkin lebih perlu diperhatikan ketimbang pertumbuhan jumlah pengikut adalah tingkat interaksi terhadap konten di media sosial yang kita kelola. Sebutan akrabnya, bobot engagement. Engagement secara sederhana berarti komunikasi dua arah, yang menurut pakar komunikasi Wilbur Schramm (pada 1954) adalah komunikasi interaksional. Kunci dari komunikasi interaksional ini adalah umpan balik (feedback) atau tanggapan terhadap pesan atau konten tertentu. Pentingnya feedback ini juga diungkapkan praktisi pemasaran online dan penulis beberapa buku tentang media sosial Jason Falls, melalui artikel tentang engagement di media sosial (2012). Ia menyebutkan kalau hasil komunikasi yang baik adalah jika audiens memberikan perhatian dalam bentuk respon.

Laporan Analitik yang Komprehensif dalam Elemen Social Media Management

Untuk mengetahui efektivitas posting-an di media sosial, Anda perlu mendapatkan laporan analitik secara komprehensif. Laporan komprehensif ini dapat mencakup analisis deskriptif, prediktif, dan preskriptif. Analisis deskriptif merupakan metode analisis yang sering digunakan oleh mayoritas analis. Dalam analisis media sosial, metode analisis ini sering digunakan untuk mengetahui rincian aktivitas pengguna di media sosial, seperti perhitungan interaksi, statistik audiensi, maupun perhitungan jumlah percakapan. Umumnya beberapa pertanyaan akan terjawab melalui metode analisis deskriptif, misalnya di hari apa saja audiensi aktif menggunakan media sosial?

Analisis Prediktif

Sementara itu, analisis prediktif adalah sebuah metode analisis yang berfungsi untuk mengidentifikasi risiko dan peluang berdasarkan rekam  data yang dimiliki. Metode tersebut akan bekerja dengan cara menganalisis data tersebut untuk membuat prediksi di masa yang akan datang. Biasanya, metode analisis prediktif sering digunakan untuk proses pembelajaran mesin maupun ataupun big data. Dalam analisis media sosial, kita bisa menggunakan metode analisis prediktif untuk menentukan strategi selanjutnya berdasarkan data perilaku pengguna di media sosial. Hal tersebut mencakup tingkat sentimen, ketertarikan pengguna, dan aktivitas pengguna. Selain itu, Anda pun bisa menggunakan metode analisis tersebut untuk mengolah data tersebut menjadi sebuah laporan yang bisa digunakan untuk menunjang strategi dan inovasi di masa selanjutnya.

Lain hal dengan analisis prediktif yang cenderung menampilkan rekomendasi terhadap sebuah kasus di media sosial. Metode ini bisa kita gunakan untuk mendukung pencapaian bisnis agar lebih maksimal. Dalam hal ini, ada beberapa pertanyaan yang akan terjawab melalui analisis prediktif, seperti konten seperti apa yang mampu meningkatkan interaksi di media sosial?

Pada umumnya, metode analisis di atas sering dilakukan dengan bantuan analytic tool. Fungsinya agar proses analisis yang dilakukan jauh lebih akurat, selain itu melalui bantuan tools tersebut, maka akan memudahkan Anda melakukan proses pengumpulan dan pengelolaan data di media sosial. Buzzumo, misalnya, dapat memonitor keberhasilan konten media sosial Anda, atau lebih tepatnya, berapa kali konten Anda dibagikan kembali oleh orang-orang. Lalu, ada pula Sprout Social. Sebagai perangkat yang terhubung dengan Twitter, Instagram, Facebook, LinkedIn, dan PinterestSprout Social merupakan sarana manajemen medial sosial yang terhitung cukup lengkap koneksinya. Melalui Sprout Social, Anda pun dapat memantau tingkat engagement pelanggan serta membuat jadwal atau kalender editorial konten media sosial bisnis Anda.

Pantau Komentar

Pantau komentar pada posting-an Anda. Bila perlu, Anda juga harus memberikan respon terhadap komentar tersebut, termasuk yang negatif. Jangan sungkan untuk menyampaikan permintaan maaf. Kemudian, ketika Anda mem-posting permintaan maaf di media sosial, usahakan tidak menggunakan script atau tulisan yang telah Anda salin dari orang lain karena orang-orang akan meremehkan permintaan maaf Anda. Ketika customer menghubungi Anda dengan komentar sosial yang negatif, mereka biasanya mencari Anda untuk mengakui dan membantu menyelesaikan masalah mereka. Jika Anda merespon dengan balasan yang sudah diotomatiskan, berarti Anda mengirimkan pesan bahwa sebenarnya Anda tidak mengambil waktu untuk memahami masalah dan tidak menghargai masukan dari customer.

Bersinergi dengan Anggota Tim

Anda sebaiknya mengurungkan niat bila ingin menjalankan manajemen media sosial seorang diri. Seperti disebutkan di awal, manajemen media sosial bukan perkara remeh. Anda akan tersita waktu, tenaga, dan pikiran untuk menjalankannya. Jadi, langkah terbaik adalah membentuk tim dan bersinergi di dalamnya. Masing-masing anggota haruslah saling memahami posisi masing-masing dan bisa berinisiatif memberikan kontribusi untuk meningkatkan kinerja tim. Satu anggota tim yang kurang memberikan kontribusi maksimal dapat mempengaruhi efektivitas manajemen media sosial yang coba Anda jalankan.

 

Contact Us

Instagram : @dmccomm_id

Website     : dmc-indonesia.com

Yuk, Intip Jadwal Posting Media Sosial yang Ideal!

jadwal posting media sosial

Jadwal posting media sosial memang perlu diperhatikan. Sah-sah saja bagi orang umum untuk menulis status atau posting di jejaring sosial kapan saja. Namun, bagi orang-orang yang menggunakan media sosial untuk membantu bisnis mereka, waktu perlu mendapat perhatian ekstra. Alih-alih efektif, posting di jam-jam tertentu justru seperti pekerjaan sia-sia belaka.

Sudah banyak pebisnis atau orang-orang yang memanfaatkan jasa layanan media sosial untuk membantu pemasaran produknya. Banyak hal perlu diperhatikan agar meraih sukses ketika berbisnis dengan menggunakan situs jejaring sosial. Salah satunya adalah manajemen waktu.

Dalam dunia  media sosial, timing adalah faktor yang sangat penting. Anda ingin bisa mengirim pesan atau posting sesuatu pada saat banyak orang yang sedang online sehingga bisa melihat konten Anda tersebut. Dengan kata lain, makin banyak orang yang terterpa konten Anda. Semakin banyak orang yang tersedia saat Anda meng-upload sesuatu, maka semakin besar pula kesempatan Anda untuk bisa melibatkan mereka dalam perkembangan bisnis Anda.

Lab42, sebuah perusahaan riset pasar, mendapatkan responden untuk survei mereka melalui media sosial, menyatakan bahwa sekitar 19% orang menggunakan smartphone mereka saat berada di restoran untuk memperbarui status Facebook. Di sisi lain, sekitar 24% mengatakan mereka mengambil foto makanan mereka dan 18% check-in ke restoran menggunakan Foursquare.

Tidak mengherankan bahwa 20% pengguna smartphone membuat rencana makan mereka dengan orang lain melalui telepon dan 19% dari mereka menggunakan perangkat seluler mereka untuk menemukan restoran.

Laporan itu juga mengatakan bahwa orang yang membawa smartphone saat mereka makan di luar melakukannya untuk melihat menu makanan atau minuman di internet dan menemukannya. Laporan tersebut juga mencatat bahwa sekitar 95% dari responden menggunakan smartphone mereka sebelum makan di luar.

Jadi, ada kecenderungan pengguna aktif media sosial posting di jam-jam tertentu, bukan? Penasaran kapan saja waktu yang tepat untuk mengunggah postingan di media sosial? Inilah rincian waktu terbaik untuk mengunggah konten-konten Anda di media sosial.

Jadwal Posting Media Sosial Facebook

Banyak perusahaan yang telah mempelajari tren dan menganalisis waktu terbaik untuk posting produk mereka di Facebook. Meskipun Anda telah menggunakan Facebook Ads, tidak ada salahnya kok tetap menerapkan strategi ini. Dikutip dari Sprout Social, inilah waktu terbaik untuk mem-posting produk bisnismu di Facebook:

  • Weekday (Senin-Jumat) pukul 10.00 – 15.00.
  • Khusus hari Rabu paling tepat pukul 12.00 – 14.00.
  • Sementara untuk hari Kamis lebih tepat pada pukul 13.00 – 14.00.
  • Mem-posting di pagi hari dan malam hari sedikit kurang efektif
  • Hari Sabtu jumlah pengguna aktif Facebook lebih sedikit daripada hari lainnya.
  • Berdasarkan data tersebut, bisa dilihat bahwa rata-rata jumlah pengguna Facebook akan membludak pada siang hari di hari kerja. Karena banyak pengguna khususnya yang pekerja sedang menjalani istirahat makan siang. Selain itu, akhir pekan cenderung kurang efektif untuk promosi karena banyak pengguna yang lebih sibuk di dunia nyata ketimbang memegang ponsel mereka.

Jadwal Posting Media Sosial Twitter

Twitter merupakan platform media sosial yang memiliki jutaan pengguna aktif tiap bulannya. Twitter berpotensi menjadi platform online marketing yang efektif, meskipun Anda bakal terbatas dengan jumlah maksimal 280 karakter per postingan. Rasio klik tertinggi, dikutip dari thesmallbusiness adalah pada hari Senin dan Kamis, tepatnya pukul 13.00 dan 15.00. Anda bisa memanfaatkan waktu ini sebagai jadwal yang ideal untuk memposting produkmu. Sementara itu, untuk waktu yang paling buruk adalah pada akhir pekan, pukul 20.00 ke atas dan hari Jumat pukul 15.00 ke atas.

Jadwal Posting Media Sosial Instagram

Bukan hanya Facebook, Instagram juga menjadi platform menarik bagi para pebisnis online. Strateginya, selain menggunakan Instagram Ads, Anda juga bisa meraih traffic dengan memposting produk di waktu yang tepat. Dikutip dari Expertvoice, ternyata waktu paling efektif, namun bukan terbaik, adalah sekitar pukul 2 dini hari. Kenapa efektif? Jam-jam segitu nggak banyak orang memposting foto di Instagram, namun, ketika pagi datang, produkmu bisa langsung dilihat oleh pengguna. Lantas, jam berapa dan hari apa waktu yang paling efektif dan terbaik untuk mempromosikan produk melalui Instagram?

  • Minggu, pukul 17.00
  • Senin, pukul 19.00 dan 22.00
  • Selasa, pukul 03.00 dan 22.00
  • Rabu, pukul 17.00
  • Kamis, pukul 07.00 dan 23.00
  • Sabtu, pukul 12.00 dan 02.00

Penentuan waktu tersebut bukan didasarkan pada jumlah like, tetapi terkait dengan seberapa banyaknya orang melihat postingan Anda.

Jadwal Posting Media Sosial LinkedIn

Waktu-waktu ideal untuk posting di LinkedIn adalah sebelum dan sesudah jam-jam sibuk atau aktivitas kerja. Disarankan untuk memulai aktivitas di LinkedIn sekitar pukul 7-9 pagi atau 5-6 petang. Puncak traffic di LinkedIn adalah hari Selasa sampai Kamis. Tidak disarankan untuk publishing sesuatu pada jam 10 malam sampai 6 pagi.

Waktu Posting Pinterest

Berbeda dengan beberapa media sosial sebelumnya, para pengguna Pinterest justru lebih aktif ketika sedang akhir pekan (weekend). Mengunggah konten di Pinterest pada hari-hari kerja justru menjadi waktu yang buruk karena biasanya jumlah reach akan menurun drastis. Hari terbaik untuk mengunggah postingan konten di Pinterest adalah pada hari Sabtu dan Minggu pada pukul delapan hingga sebelas malam. Pasalnya, pada waktu ini biasanya orang-orang sedang memiliki banyak waktu luang yang digunakan untuk mencari ide-ide segar.

Waktu Posting Youtube

Sebagian besar orang lebih banyak menghabiskan waktu mereka untuk menonton Youtube pada akhir pekan atau menjelang akhir pekan. Maka, waktu terbaik untuk mengunggah konten di Youtube adalah mulai dari hari Kamis atau Jumat yang merupakan waktu terbaik dan keterlibatan tertinggi di Youtube. Selain hari Kamis dan Jumat, Anda juga bisa mengunggah konten di Youtube pada akhir pekan, seperti Sabtu atau Minggu. Jika Anda melakukannya di akhir pekan, lebih baik Anda memilih jam-jam pagi mulai dari jam sembilan hingga sebelas pagi. Waktu malam juga bisa menjadi opsi menarik mengingat Youtube telah menjadi media hiburan favorit bagi sejumlah orang.

Satu hal lain yang perlu diperhatikan, apabila Anda seorang pebisnis yang memanfaatkan jasa layanan jejaring sosial dapat menganalisa sendiri waktu yang tepat untuk posting berdasarkan waktu dan karakteristik umum pengguna media sosial di tempat Anda. Hal ini karena karakteristik pengguna media sosial di satu wilayah dapat berbeda dengan wilayah lain.

Platform yang Anda pilih juga bisa menentukan tingkat terpaan konten media sosial. Wiselytics menjelaskan, sebuah postingan di Facebook mampu menjangkau 75% engagement potensial dalam lima jam. Sementara itu Twitter mampu mencapai engagement potensial sebanyak 75% dalam waktu kurang dari tiga jam.

Tak kalah penting, dasar utama untuk mengetahui waktu terbaik melakukan posting adalah dengan terlibat langsung dengan sosial media itu sendiri. Dengan demikian, Anda akan teredukasi dengan sendirinya dan bisa menganalisa secara garis besar.

 

Contact Us

Instagram : @dmccomm_id

Website.    : dmc-indonesia.com

Mau Tahu Apa yang Diinginkan Audiens Kamu?

Keinginan audiens media sosial

Mengetahui keinginan audiens media sosial sangat penting bagi pebisnis. Produk atau jasa yang tidak tepat sasaran bisa diakibatkan karena memang tidak dibutuhkan atau diinginkan oleh calon pelanggan. Maka, penting untuk memahami apa yang dibutuhkan atau diinginkan oleh pelanggan.

Di tengah pertumbuhan luar biasa pengguna media sosial, para manajer pemasaran terus berupaya mencari jalan bagaimana mengambil mutiara dari dalamnya. Orang-orang public relations sudah lebih dulu memanfaatkan media sosial untuk berkomunikasi dengan pelanggan dan komunitas. Mereka berusaha mendengarkan apa yang diinginkan pelanggan. Departemen pemasaran memakainya untuk membangun dan memperkuat merek.

Setidaknya ada empat faktor yang mendorong kecenderungan ini. Pertama, popularitas media sosial yang meningkat cepat. Kedua, melibatkan pelanggan dalam menciptakan produk/jasa kian dianggap penting. Ketiga, media sosial makin diterima sebagai alat persuasi yang ampuh. Dan keempat, media sosial dianggap menawarkan jalan keluar dari kesulitan yang ditemui dalam program komunikasi pemasaran tradisional. Misalnya keluasan jangkauan dan kecepatan respons.

Belum Banyak yang Memanfaatkan

Meskipun demikian, kebanyakan perusahaan masih berusaha memahami bagaimana menciptakan nilai dari pertumbuhan ini dan ujung-ujungnya memberikan pendapatan yang berarti bagi perusahaan. Perusahaan-perusahaan ini umumnya belum sanggup mengkapitalisasi informasi dan data yang mereka peroleh melalui media sosial menjadi wawasan dan keputusan yang berdampak pada bottom line mereka.

Menurut hasil survei yang diadakan Harvard Business Review Analytic Services beberapa tahun yang lalu, hanya 23% perusahaan Amerika Serikat (AS) yang menggunakan alat-alat analisis media sosial untuk memahami hasil interaksi mereka dengan pelanggan. Perusahaan selebihnya tidak mengukur, apalagi menganalisis, apakah media sosial mereka efektif sebagai sarana untuk mencapai tujuan perusahaan.

Analisis diperlukan, misalnya, untuk mengetahui siapa yang berbicara tentang merek Anda di media sosial—apakah mereka pelanggan loyal Anda, orang-orang yang berpengaruh (influencer), atau bukan? Seberapa cepat dan tepat orang pemasaran dan customer service memberikan respons kepada pelanggan? Perkembangan peranti lunak big data analytics dan infrastruktur pendukungnya akhir-akhir semakin memudahkan para manajer untuk mengambil insights dari percakapan di media sosial.

Survei di atas juga menyebutkan, hanya 7% perusahaan yang mampu mengintegrasikan media sosial ke dalam aktivitas pemasaran mereka. Banyak perusahaan memang menemui kesulitan dalam menjadikan media sosial sebagai bagian dari strategi pemasaran yang formal. Ada manajer yang menunggu best practice pemakaian media sosial dalam menciptakan nilai agar punya contoh untuk diikuti. Tak kurang banyak manajer yang tidak bersedia mengalokasikan anggaran untuk itu.

Riset yang dilakukan Media Social Today (2009) menemukan, kalangan bisnis memanfaatkan media sosial untuk empat hal: menjual produk/jasa, memasarkan dan membangun merek, public relations, dan komunikasi internal. Kerja kolaboratif melalui media sosial belum menjadi perhatian. Perusahaan umumnya masih mencari cara yang tepat untuk menciptakan nilai melalui media ini. Proses menemukan kematangan dalam pemanfaatan media sosial tengah berlangsung, dan apa yang terjadi saat ini baru permulaan.

Cara untuk Memahami Keinginan Audiens Media Sosial

Media sosial bisa dimanfaatkan untuk memahami kebutuhan dan keinginan para pelanggan yang kerap berubah. Suatu produk atau jasa dari brand tertentu tentu ingin menjadi agen perubahan di target pasarnya melalui berbagai inovasi. Oleh sebab itu, brand tersebut juga perlu proaktif beradaptasi dengan berbagai perubahan di target pasar mereka. Perubahan ini bisa datang secara internal. Namun, ada kalanya brand justru “terpaksa” berubah akibat situasi eksternal, seperti wabah virus Covid-19 yang saat ini merajalela.

Sayangnya, kesadaran untuk beradaptasi terhadap perubahan ini seringkali datang terlambat bagi sebagian brand. Tak terkecuali bagi brand besar yang cenderung sudah merasa aman dan mapan di zona nyaman mereka. Bukan tak mungkin, keterlambatan untuk beradaptasi terhadap perubahan ini membuat brand tersebut berujung gulung tikar.

Tak bisa ditawar lagi, salah satu cara bagi brand agar tetap bisa eksis dan memperbesar market share mereka adalah dengan inovasi. Inovasi ini tidak melulu soal produk atau jasa, melainkan juga bisa proses bisnis, organisasi bisnis, penggunaan teknologi, mekanisme distribusi produk atau jasa kepada para pelanggan, termasuk pelayanan after sales.

Cara terbaik bagi brand untuk menerapkan inovasi yang relevan adalah lewat riset terkait kebutuhan dan keinginan para pelanggannya dalam target pasar. Riset ini bisa dilakukan melalui media sosial. Di sini, media sosial berperan penting sebagai medium yang efektif bagi brand untuk mempelajari market behaviour yang disasar. Satu lagi kelebihan pemanfaatan media sosial untuk keperluan ini adalah biayanya relatif murah.

Lantas, bagaimana brand sebaiknya mengoptimalkan fungsi media sosial? Bisa melalui berbagai cara, seperti di bawah ini.

Social Media Listening

Fase ini memberi ruang bagi brand untuk mengidentifikasi seluruh interaksi di media sosial mengenai persona brand mereka, impresi terhadap produk atau jasanya, kebiasaan para pelanggan dan juga calon pelanggan, termasuk para kompetitor. Social media listening bisa dilakukan secara manual maupun dengan bantuan software berbayar. Tentu saja, menggunakan software berbayar akan jauh lebih memudahkan dan menghemat waktu. Di sisi lain, brand juga dapat mendengar berbagai keluhan dari para pelanggan yang tidak tersampaikan secara langsung, sambil memetakan dinamika kebutuhan dan keinginan target pasar.

Lakukan Online Survey untuk Mengetahui Keinginan Audiens Media Sosial

Beberapa media sosial menyediakan fitur untuk melakukan online survey sederhana di akun media sosial pengguna. Metode ini dapat dimanfaatkan oleh brand untuk bisa lebih aktif memahami karakter audiensnya. Pemilik brand bisa memberikan hadiah (reward) bagi audiens yang ikut berpartisipasi atau bisa juga dibuat semacam sayembara (kuis) online. Hal terpenting dalam melakukan online survey di media sosial adalah memastikan bahwa para followers atau audiens media sosial brand benar-benar sesuai target pasar. Prinsip “Garbage In, Garbage Out” juga berlaku dalam hal ini. Sebuah online survey di media sosial yang mayoritas partisipannya di luar cakupan target pasar, bakal menghasilkan data yang justru malah menyesatkan bagi brand.

Lebih Dekat dengan Audiens

Sebelum adanya internet dan media sosial, tenaga penjualan langsung (direct marketers) sering dididik untuk membina hubungan personal dengan para calon pelanggan. Semakin akrab brand dengan para pengikutnya, audiensnya, pelanggannya, target pasarnya di media sosial secara emosional, semakin mudah pula bagi brand untuk menggali informasi terdalam mereka, yang pada akhirnya menjadi fondasi primer untuk melakukan inovasi.

Media sosial memang menciptakan peluang-peluang baru, tapi media ini juga menuntut pergeseran pemikiran dalam cara perusahaan berinteraksi dengan pelanggan. Salah satu masalah pokok yang dihadapi banyak perusahaan ialah bagaimana mengintegrasikan penggunaan media sosial ke dalam strategi perusahaan, bukan sekadar untuk gaya-gayaan alias mengikuti tren bahwa perusahaan punya akun Twitter, Facebook, dan lain sebagainya.

 

Contact Us

Instagram : @dmccomm_id

Website    : dmc-indonesia.com